translate

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

15 Des 2011

Pentas Seni YASPIRU Kedungmutih Demak Membanggakan

Kething Kuning dan Yuyu kangkang
Demak, Pentas Seni YASPIRU ( Yayasan Pendidikan Islam Ribhul Ulum ) desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak yang diadakan bersamaan dengan pelepasan siswa RA , Mts, dan MA berlangsung meriah. Selain menampilkan gerak dan lagu oleh anak-anak RA juga ditampilkan seni peran atau drama modern mulai dari siswa MI sampai dengan MA , masing-masing menunjukkan kebolehannya diatas panggung. Meski latihan hanya beberapa saat saja penampilan mereka cukup prima sehingga mampu menghipnotis para penonton yaitu para orang tua siswa dan juga warga masyarakat yang lain. Selain lakon yang dipilih cukup tepat , juga gerakan para pemainnya membuat yang hadir , tersenyum bangga.
” Saya tiak menyangka meskipun mereka sekolah di desa namun kemampuan mereka tidak kalah dengan yang bersekolah di kota , gerakan serta tutur kata mereka bisa menghibur para penonton ”, ujar salah seorang penonton disela-sela pementasan .
Mbok Rondo dan anak-anaknya
Pada malam itu siswa-siswi MI menampilkan drama berjudul ” Andhe-andhe Lumut” yang mengambil setting kerajaan Jenggala yang kehilangan putra mahkota yang sedang mengembara ke desa mencari sang permaisuri . Dalam pengembaraan itu sang putri bertemu dengan yuyu kangkang dan akhirnya sang putri bisa bertemu putra mahkota yang tidak lain adalah Si Andhe-andhe lumut. Cerita itu diperankan cukup apik oleh siswa siswi MI kelas 3 dengan kelucuan dan kecentilannya. Penampilan sekitar 15 menit tersebut mampu membuat penonton berdecak kagum.
Sementara itu siswa siswi MTs ” Ribhul Ulum” menampilkan drama yang berjudul ” Anak Yang sombong ” dengan setting sekolah masa kini dengan siswa siswinya yang modern dengan HP sehingga membuat malas belajar. Ketika ada ujian sekolah ada satu siswa dari keluarga kaya sok dan sombong tidak mau belajar justru nongkrong di kantin. Selain itu agar ujiannya lulus dia pergi ke dukun minta petunjuk agar ujiannya lulus , oleh sang dukun di anak sombong tersebut di beri jampi-jampi dan resep . Namun malang karena kesombongannya itu , karena tidak belajar dia tidak lulus yang akhirnya iapun menyesali perbuatannya.
Adegan drama MA ‘ Ribhul Ulum”
Drama yang diperankan oleh siswa siswi MTs yang berdurasi sekitar 25 menit , juga membuat decak kagum para penonton apalagi peran dukun yang membuat semua penonton terpingkal-pingkal karena kelucuannya. Demikian juga pemeran pelajarnyapun cukup menjiwai sehingga pagelaran itu membut para penonton tidak bergeming dari tempat duduknya.
Pagelaran pentas seni terakhir diisi oleh siswa siswi MA ( Madrasah Aliyah ) dengan judul ” kokok betok-betok ” yang mengisahkan satu keluarga yang kepala keluarganya suka mengadu jago. Saking cintanya pada jago aduannya maka keperluan keluarga tidak diurusinya , sehingga setiap hari dia mengurusi jago kesayangannya untuk di adu dengan harapan mendapatkan kemenangan . Menurutnya dengan kemenangan jagonya dalam laga atau pertandingan akan mendapatkan hadiah 100 juta yang nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga terutama membelikan anaknya sepeda motor . Namun naas dalam pertandingan itu jagonya keok sehingga seluruh hartanya habis digunakan untuk bertaruh , sehingga menyebabkan dia sakit ingatan dan membuat keuarganya berantakan.
Seluruh pemain bergambar bersama
Drama yang berdurasi selama hampir 30 menit benar-benar memikat para penonton , selain dialognya yang jelas , juga diselingi joke-joke yang membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Selain itu pula dalam drama ini juga diisi dengan nyanyian dan juga tarian sehingga makin membuat penonton tidak beranjak dari tempat duduknya meski sekejap.
” Mudah-mudahan ke depan anak-anak yang mengikuti seni pentas drama , salah satunya ada yang menjadi artis agar dapat menjadfi penyemangat yang lain agar juga menekuni dunia seni peran ” , harap Suhari S Pd I Kepala MTs ” Ribhul Ulum” di sela-sela pentas seni. (FM)

Ada Madrasah Gratis Di Kedungmutih Demak

H. Sakdun Kepala Madin di acara pelepasan siswa
Demak -  Dalam situasi ekonomi yang sulit ini masih ada kumpulan orang yang peduli akan pentingnya pendidikan agama Islam dan  menyediakan pendidikan Madrasah Diniyyah secara gratis. Adalah Madrasah Diniyyah  Awwaliyah “ Ribbul Ulum” 01 desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak yang telah 5 tahun membebaskan siswanya dari iuran bulanan (SPP) . Sehingga orang tua siswa /wali hanyalah menyediakan kebutuhan belajar anaknya seperti buku-buku pelajaran dan uang semesteran saja.
“ Ya mudah-mudahan kami semua saya dan guru kami semua diberi kesehatan agar kami terus dapat menyelenggarakan pendidikan gratis untuk warga disini “, tutur  H. Ahmad Sakdun Kepala Madrasah Diniyyah Awwaliyah Ribhul Ulum 01 Jum’at (15/7/2011)
Madrasah yang berusia sudah puluhan tahun ini 5 tahun yang lalu masih membebankan biaya pendidikan untuk siswanya .Namun setelah adanya kampanye sekolah gratis oleh pemerintah, meski tidak mendapatkan BOS madrasah ini serta merta melakukan hal yang sama . Dengan pertimbangan agar orang tua yang menyekolahkan anaknya di madrasah ini tidak lagi terbebani oleh biaya.
“ Alhamdulillah sudah 5 tahun ini Madrasah ini tidak lagi ada biaya yang dikeluarkan oleh orang tua siswa “, tambah H. Ahmad Sakdun.
Ketua Yayasan Pendidikan Islam “Ribhul Ulum”  Kedungmutih Muzawaid. S Ag mengatakan , bentuk pendidikan gratis di salah satu unit pendidikan di yayasannya adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap warga masyarakat. Hal itu bisa dilaksanakan karena gedung yang digunakan untuk belajar adalah milik unit pendidikan yang lainnya. Namun demikian fihaknya menyambut positif atas kebijakan yang dilakukan oleh salah satu unit pendidikan di yayasannya.
Meski gratis namun ia berharap proses belajar mengajar tetap berlangsung dengan baik. Guru yang mengajar meski tidak ada bayaran tidak akan kehilangan semangat dalam menyampaikan materi kepada siswa. Sehingga hasil belajar yang didapatkan para siswa akan maksimal seperti halnya sekolah yang membayar.
“ Karena ini sudah kemauan pengelola utamanya unit pendidikan diniyyah yang membebaskan pungutan kepada siswanya , fihak yayasan akan selalu mendukung keberadaan Madrasah ini sebagai tempat untuk mendidik generasi penerus bangsa “, kata Muzawaid, S Ag dihadapan orang tua siswa yang menghadiri pelepasan siswa tahun pelajaran 1432 H .(FM)

Alhamdulilah !!! Mufiati Siswi Pesisir Demak Terima Bidik Misi

Mufiati Alumni MA " Ribhul Ulum" penerima Bidik Misi
Demak – Bagi Mufiati mengenyam bangku kuliah di perguruan tinggi merupakan impiannya setelah lulus Madrasah Aliyah ” Ribhul Ulum ” desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak tahun 2010 yang lalu. Karena kondisi ekonomi orang tuanya yang tidak memungkinkan mengikuti jalur umum maka iapun mengikuti seleksi lewat jalur bidik misi yang diperuntukkan keluarga miskin . Namun sayang tiga perguruan tinggi yang ia masuki semuanya gagal tidak membuahkan hasil , sehingga keinginannya untuk kuliah di pergurun tinggi pupus sudah.
Untuk mengisi waktunya yang lowong itu ia pergunakan untuk membantu mengajar di sebuah Madrasah Diniyah dengan tujuan mendapatkan imbalan . Selanjutnya honor tersebut dipergunakan untuk membayar uang kuliah di Perguruan Tinggi swasta yang terdekat dari rumahnya. Setiap hari ia berangkat kerja dengan naik sepeda , dengan tujuan honornya tersebut dikumpulkan untuk persiapan membayar kuliah di PTS . Mengandalkan biaya dari orang tuanya jelas tidak mungkin , selain ayahnya sudah tidak ada penghasilan ibunya sebagai penjual kepiting juga tidak seberapa.
” Waktu saya ditawari untuk mencoba mendaftarkan diri lagi mengikuti SNMPTN Bidik Misi awalnya menolak , namun karena pak Syafik dan Pak Musa mendorong saya terus akhirnya saya bersedia mencoba lagi mengikuti tes pada tahun 2011 ”, ujar Mufiati yang ditemui Sabtu (16/7/2011) dalam rangka persiapan registrasi.
Dengan belajar seadanya karena sudah tertinggal satu tahun iapun mengikuti tes SNMPTN di Semarang bersamaan dengan beberapa siswa MA ”Ribhul Ulum” yang mengikuti jalur Bidik Misi. Di sana iapun bersaing dengan ratusan siswa yang mengharapkan juga kursi mahasiswa Bidik Misi karena mereka juga dari keluarga yang kurang mampu. Berkat do’a dan juga semangatnya ingin kuliah dan meraih sarjana iapun akhirnya lolos tes dan masuk di UIN Sunan kalijaga Yogyakarta jurusan Bahasa Arab.
” Besok pagi rencana registrasi ke Yogyakarta , setelah itu ada visitasi dari kampus . Mudah-mudahan tidak ada aral merintang dan keinginan saya untuk dapat kuliah dan mendapatkan beasiswa tercapai ”, harap Mufiati.
Selain berkas-berkas ijasah dan surat yang lainnya , ada juga surat keterangan dari desa yang menerangkan orang tuanya termasuk dari golongan kurang mampu . Memang setelah ayahnya meninggal dunia ekonomi keluarganya menjadi morat-marit karena hanya mengandalkan penghasilan dari ibunya yang tidak seberapa. Oleh karena itu setelah ia lulus MA keinginannya untuk kuliah ke Perguruan Tinggi urung karena melihat ekonomi keluarganya yang jelas tidak mampu. Selain dirinya ia masih mempunyai kakak dan adik yang masih mengantungkan ekonomi pada ibunya.
Dengan diterimanya di UIN Suka Yogyakarta ini bagaikan mimpi yang kesampaian, karena ia bercita-cita menjadi guru yang berpendidikan Sarjana sejak dulu. Dengan pendidikan sarjana itu ia bisa menyumbangkan tenaganya demi kemajuan pendidikan di daerahnya pesisir. Selain itu pula ia juga bisa memberi semangat pada anak pesisir lain agar belajar keras dan mendapatkan kesempatan yang sama kuliah dengan gratis . (FM)

Bersyukur Terima Beasiswa BIDIK MISI Di UIN SUKA Yogyakarta





Ahmad Fatih Kurniawan
Demak – Beasiswa pendidikan untuk siswa miskin berprestasi (BIDIK MISI) pada tahun 2011ini kembali di raih siswa MA “ Ribhul Ulum “ desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak . Salah satu siswa yang cukup beruntung adalah Ahmad Fatih Kurniawan yang kini sudah registrasi di UIN ( Universitas Islam Negeri ) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Meski harus menunggu lama karena adanya visitasi dari kampus namun akhirnya impiannya untuk kuliah di perguruan tinggi negeri dengan beasiswa terkabul juga . Dengan mengambil program studi  Pengembangan Masyarakat Islam dia berharap akan terus dapat belajar memeperbanyak ilmu agar berguna kelak di hari tua.
“ Jika mengandalkan ekonomi orang tua saya yang hanya petambak kecil tidak akan kuat membiayai saya di Perguruan Tinggi . Oleh karena itu ketika ada program Bidik Misi saya ikut mendaftar awalnya saya ikut  jalur undangan namun gagal. Saya coba lagi untuk ikut SNMPTN Alhamdulillah saya lolos bersama satu teman lainnya satu sekolah “, ujar Fatih yang didampingi ayahnya Muhibbin pada kabarseputarmuria.
Ahmad Fatih Kurniawan mengatakan , keinginan untuk kuliah di perguruan tinggi merupakan cita-citanya sejak memasuki bangku sekolah dasar , untuk memenuhi hasratnya itu ia selalu belajar keras . Baik di sekolah formal SD , MTs , MA dan juga sekolah Informal Madrasah Diniyah dan juga ngaji , sehingga hasilnya tidak mengecewakan. Meski tidak masuk peringkat atas  namun ia selalu masuk 10 besar sehingga ketika ada seleksi Bidik Misi iapun berhak mengikutinya.
“ Alhamdulillah mudah-mudahan di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saya diberi kelancaran dalam beajar sehingga bisa mengikuti pelajaran dengan baik “, tambah Fatih .
Sementara itu Muhibin ayah Fatih mengaku bangga dan senang putra pertamanya lolos seleksi mahasiswa baru UIN Yogyakarta dan mendapatkan beasiswa dari negara. Jika mengandalkan ekonomi keluarganya yang hanya dari tambak sempit menurut hitungan sulit membiayai anaknya kuliah di perguruan Tinggi . Selai  harus mempersiapakan untuk registrasi setiap tahunnya , juga biaya hidup setiap bulan harus dikirimkan . Padahal mengharapkan hasil tambak yang tidak menentu untuk makan saja masih harus kesana kemari . Oleh karena itu ketika anaknya lulus dari MA salah satu caranya ya mengharapkan bantua pemerintah lewat beasiswa karena keinginan anaknya yang kuat ingin melanjutkan sekolah.
“ Ya turut bangga dan senang karena anak saya bisa mendapatkan beasiswa dari BIDIK MISI , karena jika saya harus mengeluarkan biaya untuk kuliah dia untuk makan sehari-harinya dari mana pekerjaan pokok saya dari tambak yang sempit yang setiap tahun terus terkena abrasi “, aku Muhibbin.
Oleh karena itu ketika ada visitasi dari kampus yang dilaksanakan oleh salah seorang dosen UIN Yogyakarta ia menunjukkan apa adanya . Selain rumah yang sederhana , pekerjaan pokok serta informasi penunjang lainnya seperti kartu Jamkesmas . Dengan informasi tersebut dia yakin putranya lolos bisa mendapatkan beasiswa yang kelak mengantarkan putranya meraih Sarjana sebagai bekalnya kelak di hari tua.
“ Cuma yang saya ingat bapak yang datang bilang setelah nanti masuk kampus harus selalu belajar yang giat karena semua biaya sudah ditanggung pemerintah . Tugas yang utama adalah belajar yang giat sehingga tidak mengecewakan negara yang telah membiayai “, ujar Muhibbin lagi
Memang beasiswa BIDIK MISI saat ini menjadi dambaan calon mahasiswa dari keluarga miskin karena dengan biaya sendiri jelas mereka tidak mampu memenuhinya . Untuk tahun depan diharapkan pemerintah terus mengelontorkan program ini sehingga kedepan akan tercetak banyak sarjana dari kalangan miskin . Selain mencetak generasi yang berkualitas diharapkan pula mengurangi kemiskinan di Indonesia karena masih rendahnya pendidikan mereka. (FM)

Bidan Nurwahidah binti H nachrowi , Setelah Lulus Wiyata Bakti Di Puskesmas Pembantu Di Desanya

Bidan Nurwakhidah, di ruang kerjany
Demak – Bagi Nur Wahidah pekerjaan Bidan yang ia jalani sekarang selain untuk mencari materi juga merupakan kerja social atau kemanusiaan . Oleh karena itu setelah lulus dari STIKES “ Widya Husada “ tahun 2008 ia mencoba melamar pekerjaan sebagai Tenaga Wiyata Bhakti di Puskesmas Pembantu (Pustu) desa Kedungmutih kecamatan Wedung Kabupaten Demak . Meski saat ini dia hanya mendapatkan uang lelah sebagai darma baktinya , namun itu bukan tujuan utama yang dia harapkan. Dengan bekerja membantu Bidan Desa melayani masyarakat , maka ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah dapat dipraktekkan secara langsung. Selain memberikan pengobatan ringan kepada ibu dan anak , suntik KB , juga menangani persalinan .
“ Ya harapannya ya bisa diangkat menjadi PNS sebagai Bidan Desa resmi , namun karena rezeki belum sampai meski sudah 3 kali saya mengikuti tes CPNS gagal terus . Oleh karena itu sampai saat ini saya masih wiyata di Puskesmas Pembantu Desa Kedungmutih pagi sampai siang hari . Sedangkan sore sampai malam saya buka praktek di rumah  “, ujar Bidan Nur Wakhidah pada Wartawan yang menemui di rumahnya.
Nur Wahidah mengemukakan, pada awalnya seusai lulus di Madrasah Aliyah Banat NU Kudus dia berkeinginan untuk melanjutkan sekolah guru . Namun ayahnya menyarankan untuk melanjutkan sekolah Bidan atau Perawat . Dengan pertimbangan warga desanya saat itu sudah banyak yang melanjutkan sekolah dengan mengambil jurusan guru . Oleh karena itu dia diberi masukan ayahnya untuk mengambil sekolah kesehatan yang seterusnya mendaftarkan diri ke  STIKES “Widya Husada” Semarang yang jaraknya lebih dari 50 Km dari tempat tinggalnya.
Pada awal kuliah ada rasa canggung karena tidak sesuai dengan keinginan hatinya , namun dengan dorongan ayahnya itu ia mulai semangat kuliah , apalagi setelah bertemu dengan teman-teman lainnya dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Semangatnya untuk belajar semakin lama semakin tinggi sehingga waktu tiga tahun tidak dirasakan berat . Selain belajar teori dia juga belajar praktek secara langsung di Rumah Sakit Bersalin menangani persalinan yang menjadi tugas utamanya. Pada awalnya melihat persalinan rasanya cukup ngeri dan takut , namun karena terbiasa hal itu tidak menjadi halangan baginya sehingga menangani persalinan saat ini ia enjoy saja.
“ Dulu ketika awal praktek rasanya tubuh saya  gemetaran melihat ibu yang sedang melahirkan , namun kini mintanya setiap hari ada ibu yang melahirkan terus . Kalau tidak ada ada ibu yang melahirkan tangan ini justru gemeteran terus mas “, aku Nur Wakhidah sambil tersenyum.
Selain wiyata bhakti membantu Bidan Desa di Puskesmas Pembantu Desa Kedungmutih pagi sampai siang hari . Sore harinya ia membuka praktek di rumahnya setelah surat ijin praktek Bidannya keluar awal tahun 2011 ini . Meski belum ramai seperti Bidan yang sudah lama membuka paktek , namun setiap harinya sudah ada satu dua pasien yang mendatangi tempatnya praktek yang kebanyakan masih tetangganya dan juga warga desa tetangga. Agar kemampuannya melayani masyarakat  terus bertambah dan berkembang  selain belajar dengan Bidan Desa di Puskesmas Pembantu ,iapun rutin mengikuti pertemuan IBI ( Ikatan Bidan Indonesia ) Cabang Demak.
Ketika ditanya sampai kapan dia terus berwiyata bakti  ? Selama masih tinggal di desanya meski belum diangkat menjadi PNS dia terus mengabdikan kemampuannya untuk membantu dan melayani masyarakat .Menjadi pegawai Negeri atau tidak bukan halangan untuk terus mengabdikan kemampuannya untuk masyarakat . Kondisi masyarakat desa saat ini masih memerlukan pendampingan agar pola hidup sehat terbiasa pada keluarga , utamanya dari golongan yang kurang mampu . Meski saat ini berobat bagi mereka sudah digratiskan pemerintah , namun gaya atau pola hidup sehat harus terus di kampanyekan pada mereka .
Bidan Nur Wakhidah
Dengan terus berwiyata bakti di Puskesmas Pembantu diharapkan kemampuannya untuk melayani masyarakat semakin bertambah . Apalagi yang ia layani adalah warga desanya sendiri sehingga ia bisa memberikan ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah kepada warganya sendiri. Selain itu pula untuk meberikan semangat pada tetangganya untuk mengikuti jejaknya sebagai Bidan , sehingga ke depannya ada lagi Bidan yang lahir dari warga desanya . Selain itu dia juga bisa memperjuangkan warganya mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
“  Yang  saya usulkan pada pemerintah adalah fasilitas seperti Puskesmas Pembantu di desa saya kondisinya cukup memprihatinkan dan sudah tidak layak lagi untuk melayani kesehatan masyarakat . Namun karena adanya hanya bangunan itu ya gimana lagi kita tetap bekerja di sini “, kata Bidan Nurwakhidah menutup sua . (Fatkhul Muin)

Musim Kemarau Rejeki Bagi Para Penjaja Air


1318901269703403789
Misbakhuk dengan motor bututnya
Demak – Bagi sebagian orang kekeringan atau musim kemarau adalah suatu musibah utamnya di desa-desa yang rawan air bersih .Sehingga jika musim kemarau tiba mereka kesulitan memenuhi air bersihnya karena sumur atau tendon air telah habis. Namun bagi para penjaja air kekeringan adalah rejeki mereka , dari menjajakan ir itulah mereka dapat penghasilan yang bisa menopang hidup mereka sehari-harinya. Dengan modal sepeda atau sepeda motor dan jrigen-jrigen untuk wadah air mereka memenuhi kebutuhan air warga sehari-harinya.
“ Ya jika sedang ramai saya bisa tiga puluh kali mensuplai air bersih ke rumah warga , namun jika di rata-rata ya dua puluh kali kita bisa membawa 4 jrigen air ini . Setiap jrigen kita dapat upah Rp 1.500,- dan kita beli pada warung air setiap jrigennya Rp 500 “, tutur Misbakhul Azmi (35) warga desa Kedungmutih yang setiap hari ider air keliling kampung Selasa (18/10/2011).
Misbakhul mengaku dengan modal motor bututnya itu dia sudah empat tahunan menekuni profesi sebagai tukang jaja air di musim kemarau , sedang air yang ia jajakan biasanya ngebon dulu pada warung air di daerah Jepara. Sehingga modal yang ia butuhkan sehari-harinya cukup bensin untuk menjalankan motornya dan juga olie dan servis jika motornya rusak. Setiap pagi hari dia keluar dari rumahnya dengan membawa 4 jrigen air berkapasitas 25 liter yang ia taruh dalam keranjang kayu yang ia buat dibelakang jok motornya.
Jrigen –jrigen kosong ia isikan ke warung air di desa Kedungmalang kecamatan Kedung kabupaten Jepara yang memang disediakan pemerintah untuk mensuplai kebutuhan air warga disaat kekeringan. Di sana ia harus antri dengan sesama penjaja air lainnya yang juga mengisi jrigen-jrigen mereka yang juga dijajakan ke desa yang dilanda kekeringan . Selain desa Kedungmutih , mereka juga menjajakan air ke desa Babalan, Kedungkarang dan Menco karena desa tersebut belum tersambung pipa PDAM . Di desa-desa itulah para penjaja air menangguk Rejeki di kala musim kemarau atau kekeringan tiba.
“ Kalau musim penghujan tiba saya kerja buruh-buruh atau mencari ikan ke laut sebagai Nelayan, upah dari menjajakan air ini cukup lumayan , sehari jika sampai siang bisa menghasilkan Rp 30 – 40 ribu bersih namun jika pagi hari saja Rp 25 ribu bersih juga dapat”, aku Misbakhul Azmi.
13189014351435299534
Selain Misbakhul masih ada beberapa orang lagi yang berprofesi sebagai penjaja air di kala musim kemarau tiba dan itu terjadi sudah puluhan tahun yang lalu . Usulan warga untuk tersambungnya pipa PDAM sejak lama dilontarkan belum ada sampai sekarang dengan alasan tidak adanya air baku yang mensuplai ke desa pesisir ini . Sumber air tawar yang ada hanya di kabupaten Jepara dan permintaan penyambungan air dari kabupaten Jepara belum bisa terpenuhi dikarenakan wilayah yang berbeda . Solusinya pemerintah daerah kabupaten Jepara membangun warung air di desa Kedungmalang yang kemudian airnya di jual kepada penjaja air yang selanjutnya dipasok ke rumah-rumah warga yang membutuhkan.
“ Kita berharap pemerintah daerah Kabupaten Demak bisa bergandeng tangan dengan pemerintah kabupaten Jepara agar menyambungkan pipa air bersih dari desa Kedungmalang ke desa Kedungmutih , toh tempatnya tidak . Sehingga desa Pesisir di kabupaten Demak ini bisa merasakan air bersih sehingga tidak membeli air bersih setiap hari kepada para penjaja air yang harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan menyambung pipa PDAM secara langsung :, ujar Fatkhul Muin tokoh masyarakat desa Kedungmutih yang juga pengelola blog “Pusat Informasi Masyarakat Pesisir”. (FM)

Mengenal Pak Mukalim Tukang Kayu Dari Pesisir


DEMAK- Apapun profesinya jika ditekuni akan membawa keberhasilan  . Seperti halnya   Mukalim (50) warga desa Kedungmutih  kecamatan Wedung kabupaten Demak ini.  Puluhan tahun ia berprofesi sebagai tukang membuat rumah dan memperbaiki rumah dengan cara borongan atau harian,
Lelaki yang akrab dipanggil  Kalim   sehari-hari itu , bagi   keluarga,saudara dan  masyarakat dikenal sebagai pribadi yang  jujur,ulet,pekerja keras dan bertanggung jawab. Dia  beristrikan ibu Suliyah (45) dan  sudah di karuniai lima orang anak, satu laki-laki dan empat perempuan.yang memberikan   lima cucu dua laki-laki dan tiga perempuan.
Bila musim kemarau datang warga desa Kedung mutih dan sekitarnya sangat terbantu oleh pekerjaannya,dari membangun rumah atau hanya memperbaiki saja . Tak sedikit rumah di desa Kedung mutih yang menjadi buah karyanya,ada yang terbuat dari kayu atau dari bangunan batu bata.
Jika  bekerja pak Kalim di bantu tukang laden/ngaduk lepok,untuk pekerjaan laden ia selalu  mengajak keponakannya sendiri yaitu Abdul Majid(  33). Dulu pak Mukalim selain menjadi tukang juga seorang nelayan,petani tambak udang dan garam,di karenakan banyaknya warga yang sangat membutuhkan tenaganya dalam membangun rumah maka pak Kalim fokus di bidang pertukangan saja.
Pak Kalim yg bertempat tinggal di desa Kedung mutih jikalau kerja harian selalu berangkat jam 07.00 dan pulang pulang jam 16.00 .namun kalau kerja borongan masalah waktu tak di batasi dan kadang-kadang sampai lembur dengan cara membawa kayu  milik tuan rumah untuk di buat kusen-kusen di rumahnya sendiri untuk harian pak Kalim di bayar sekitar Rp 60.000 (enam puluh ribu) dan untuk job borongan itu masalah negosiasi antara pak kalim dan tuan rumah tergantung besar kecilnya rumah (ulin nasrullah)