translate

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

12 Jan 2012

Nelayan Desa Kedungmutih Demak , Perlu Perhatian Pemerintah

Musim hujan nelayan banyak istirahatnya karena laut ombak
Demak – Desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak selain dikenal sebagai desa penghasil garam juga dikenal sebagai desa penghasil ikan , udang, rajungan dan kepiting. Hasil perikanan tersebut selain dari tambak dipinggir pantai juga ditangkap oleh para nelayan yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Setiap harinya mereka mengandalkan laut sebagai lahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga , dari belanja harian, menyekolahkan anak sampai dengan memperbaiki rumah. Namun demikian penghasilan dari nelayan yang tidak menentu inilah yang menyebabkan penghidupan nelayan dari waktu ke waktu tidak ada peningkatan.
Selain rumah dan lingkungannya kelihatan kumuh , juga kehidupan anak-anaknya jauh dari kecukupan dan pendidikan merekapun masih rendah . Kebanyakan mereka paling tinggi hanya tamat SMP atau Madrasah Tsanawiyah untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi biasanya mereka terkendala biaya. Penghasilan orang tua mereka sebagai nelayan habis dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan harian dan juga untuk operasional “miyang” ke laut sehari-hari. Jika beberapa hari laut ombak merekapun banyak yang memperbahurui hutang atau menggadaikan barang atau perhiaasan.
“ Ya gimana lagi hanya inilah pekerjaan saya nelayan . Jika laut sedang ramah tidak ombak kita bisa miyang untuk menangkap ikan namun jika musim hujan tiba seperti ini kita tidak berani melaut karena laut ombak. Ya terpaksa dirumah memperbaiki mesin perahu dan juga alat tangkap ikan “ ujar Nur Sohib (45) Ketua Kelompok Nelayan “ Barokah Laut “ desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak pada wartawan yang menemuinya.
Didampingi sekretaris kelompok Sabarudin Nursohib yang lebih lima belas tahun menjadi nelayan mengemukakan, selain persoalan penghasilan yang tidak menentu harga ikan juga cenderung turun jika musim baik sehingga meski mendapat ikan yang banyak penghasilan tidak seberapa. Akibatnya penghasilan mereka habis dipergunakan untuk operasional sehari-hari dan kebutuhan belanja . Oleh karena itu untuk memperbaiki alat tangkap , perahu dan mesin sering terabaikan , sehingga meski dalam kondisi seadanya perahu atau mesin dipergunakan untuk menangkap ikan kelaut.
Sehingga jika musim ombak besar , sering terjadi kecelakaan nelayan yang diakibatkan oleh kurang layaknya perahu mereka selain kondisinya sudah tua , juga terlalu kecil jika menerjang ombak. Selain itu persoalan lain adalah masih kurangnya cunggihnya alat tangkap ikan mereka yang kurang inovasi seperti nelayan daerah lain. Idealnya satu nelayan memiliki alat tangkap 2 atau 3 jenis yang dipergunakan untuk menangkap ikan menurut musim ikan keluar. Namun karena keterbatasan dana mereka biasanya mereka hanya memiliki a tau 2 jenis alat tangkap ikan , akibatnya penghasilan mereka tidak bisa maksimal.
“ Sampai saat ini kelompok kami belum tersentuh program pemberdayaan dari pemerintah khususnya sector perikanan dan kelautan , oleh karena itu kita mohon kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib kita nelayan di desa Kedungmutih ini agar mendapatkan BLM ( Bantuan Langsung Masyarakat ) untuk meningkatkan kesejahteraan kami “, harap Nursohib.
Sabarudin (48) Sekretaris Kelompok Nelayan “Barokah Laut” mengatakan anggota kelompoknya yang berjumlah 31 orang belum lama ini telah mengurus PAS untuk perahu mereka ke kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Demak. Dengan harapan ke depan jika tidak ada BLM anggota kelompoknya bisa mengajukan kredit kepada lembaga keuangan atau perbankan dengan modal Surat PAS perahu tersebut. Dengan kredit itulah mereka bisa meningkatkan pendapatan mereka dengan menambah alat tangkap dan juga perbaikan perahu agar layak untuk menagkap ikan ke laut.
Sementara itu Hamdan (56) Kepala desa Kedungmutih yang ditemui secara terpisah mengatakan , para nelayan warganya memang masih membutuhkan perhatian dari pemerintah . Untuk petani garam misalnya sudah ada program PUGAR ( Pemberdayaan Usaha Garamn Rakyat) , namun untuk nelayan belum ada program yang menyentuh sampai ke bawah . Akibatnya sampai saat ini kehidupan nelayan masih banyak yang dikategorikan miskin , karena penghasilan mereka dalam satu tahunnya tidak cukup untuk kehidupan layak.
“ Kalaupun disini ada nelayan yang rumahnya bagus-bagus itu bukan hasil dari menangkap ikan ke laut ,
namun hasil istri atau anak mereka sebagai TKW di Luar Negeri. Oleh karena itu kami mengharapkan sekali adanya bantuan pemerintah pada nelayan warga desa kami “, kata Hamdan. (Fatkhul Muin)

Usaha Pengeringan Ikan Pak Gangsar , Sudah 20 Tahun lebih

 
Pak Gangsar dan Tumpukan Ikan Kering
KEDUNG MUTIH – Selain sebagai nelayan penangkap ikan Pak Gangsar ( 56 ) warga RT 07 RW 03 desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak juga membuka usaha pengeringan ikan. Bersama istrinya ibu Kastumi (50) dia telah 20  tahun berusaha mengeringkankan berbagai jenis ikan dari para nelayan tetangga yang seterusnya dipasarkan ke Pasar Rejomulyo Semarang. Jika mengandalkan hasil dari nelayan saja , penghasilannya tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Oleh karena itu meski harus meluangkan waktu khusus untuk membantu istrinya mengolah ikan profesi ini terus ditekuni sampai sekarang.
“ Ya gimana lagi hasil nelayan kan tidak menentu kadang dapat kadang tidak , lalu istri punya inisiatif untuk membuka usaha pengolahan ikan kering seperti ini . Meski hasilnya kecil namun setiap waktu selalu ada oleh karena itu sampai sekarang usaha pengeringan ikan ini tersu berjalan sampai sekarang “, ujar Pak Gangsar yang ditemui wartawan di braknya pinggir sungai SWD II.
Di dalam brak rumah tembok sederhana itu terlihat bungkusan-bungkusan plastic berbagai jenis ikan kering . Ada Ikan Teri , Munir , Layur , Juwi ,Kadalan , Buntek , Terak , Amping Dan tak ketinggalan udang rebon kering dan juga terasi. Ikan kering tersebut berasal dari pembelian ikan basah dari nelayan diseputaran Kedungmutih dan sekitarnya . Sampai dirumah ikan-ikan tersebut dibersihkan , diambil sisik dan isi perutnya kemudian dikeringkan dalam wadah-wadah yang terbuat dari bambu diseputaran pinggir pantai.
Setelah kering ikan tersebut dipilah-pilah menurut jenisnya dan dibungkus plastic rapi , setelah terkumpul banyak ikan-ikan itupun di setorkan ke pengepul di Semarang.  Namun demikian beberapa pengepul itu ada juga yang langsung datang ke rumahnya mengambil dagangan untuk dipasarkan lagi ke tempat lain.
“ Saya punya pelanggan khusus dari daerah Sayung Demak , dia mengambil ikan kering dari sini lalu dibungkus rapi dengan cap yang bagus lalu dijual eceran di PRPP semarang “, ujar Gangsar
Ikan Kering siap kirim
Ketika ditanya dari mana pengalaman berusaha dan mengolah ikan kering ini  ? Gangsar yang juga ketua RT dan juga tokoh nelayan desa Kedungmutih mengemukakan , awalnya adalah melihat tetangga desa yang juga mempunyai usaha pengeringan ikan dan cukup maju . Berawal dengan keberanian itulah ia bersama istrinya merintis usaha pengeringan ikan ini sampai sekarang . Dulu ketika awal berusaha usahanya cukup maju , sehingga tetangga kanan kirinya banyak yang juga ikut-ikutan , namun demikian usaha tersebut tidak berlangsung lama karena terkendala modal dan pemasaran.
Meski sudah lebih 20  tahun membuka usaha namun masih ada saja kendala yang menghadang usahanya  itu , utamanya jika musim penghujan tiba atau panas kurang terik . Sering ikan yang dikeringkan kualitasnya kurang bagus sehingga harganyapun turun dengan sendirinya. Selain itu tekhnik pengolahan ikannya juga masih tradisional sekali sehingga hasilnya kadang-kadang kurang bagus dilihat. Selain itu kendala modal juga menghambat pertumbuhan usahanya , sering terjadi jika dagangan banyak harga murah uangnya tidak cukup untuk membeli ikan dari nelayan.
Oleh karena itu dia mengharapkan bantuan dari pemerintah utamanya dinas perikanan untuk memberikan  penyuluhan pada usaha yang ditekuninya puluhan tahun, selain tekhnik pengolahan yang baik dan benar , pemasaran dan juga permodalan . Sehingga usaha yang telah dirintisnya itu bisa berjalan terus , dan hasil para nelayan di sekitar desa Kedungmutih bisa diolah menjadi ikan kering yang mempunyai nilai manfaat tersendiri. Utamanya ketika hasil nelayan banyak dan harga ikan basah cukup murah
“ Sebenarnya kami ingin mendapatkan penyuluhan dari pemerintah mengenai usaha pengolahan ikan kering sehingga pemasaran kami tidak hanya daerah Semarang saja , namun bisa menjangkau daerah lainnya . Selain itu juga masalah modal menjadi kendala tersendiri bagi kami pengusaha kecil “, harap gangsar menutup sua. (Fatkhul Muin)

17 Des 2011

KSU “ Margi Rahayu “ Kedungmutih Demak Usahanya Terus Bertambah



pelayanan pembayaran listrik

Demak – KSU “ Margi Rahayu “ Desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak selain melayani simpanan dan pinjaman untuk anggotanya juga membuka loket pembayaran listrik untuk anggota dan juga masyarakat umum lainnya. Sistem PPOB itu telah berlangsung hampir 2 tahun dengan jumlah pelanggan mencapai 600 orang dan setiap waktu terus bertambah. Warga yang membayar listrik selain warga desa Kedungmutih sendiri , warga desa tetangga seperti Kedungkarang, Babalan ,Kedungmalang dan Kendalasem juga ikut membayar disini. Dengan adanya loket pembayaran ini selain KSU memperoleh tambahan pendapatan juga membantu warga mendekatkan tempat pelayanan sehingga mereka lebih efisien waktu dan juga biaya. Sebelum adanya loket di KSU “Margi Rahayu” mereka yang membayar listrik harus menambah biaya khusus pada kolektor di masing-masing desa. “ Kita mengharapkan ke depan warga yang membayar rekening listrik disini bisa mencapai 1000 orang , oleh karena itu setiap waktu kita mengadakan promosi ke desa-desa terdekat agar setiap waktu terjadi penambahan pelanggan “, ujar Hamzawi Anwar (49) Manager KSU “ Margi Rahayu” Sabtu (4/6/2011)
Adanya loket pembayaran listrik ini menurut Hamzawi Anwar adalah sebagai penambahan usaha koperasi selain simpanan , pinjaman dan juga gadai emas. Untuk ke depan usaha koperasi akan ditambah terus seiring dengan permintaan anggota dan juga masyarakat seperti yang akan di buka beberapa hari ke depan yaitu jual beli motor second ( bekas ) . Sedangkan untuk pembelian motor baru KSU” Margi Rahayu” telah menggandeng “ Yamaha “ kantor cabang Kalinyamatan dalam hal penjualan motor Yamaha secara kontan dan kredit.
Dengan adanya usaha-usaha baru ini diharapkan koperasi terus berkembang , tidak hanya usaha simpan pinjam saja namun usaha-usaha yang lain juga disentuh agar mampu melayani anggotanya dengan baik.
Di sector pergaraman KSU “ Margi Rahayu “ juga telah membentuk unit usaha garam rakyat yang diharapkan ke depan mampu menyejahterakan anggotanya khususnya para petani garam dalam rangka menampung hasil mereka jika panen raya. Kenyataan yang ada jika panen raya garam tiba harga ditingkat petani anjlok sehingga para petani tidak dapat menikmati manisnya hasil garam karena hasil yang banyak tidak ditunjang dengan harga garam yang baik. Agar harga garam bisa stabil dan tidak dipermainkan oleh para tengkulak maka koperasi harus bertindak untuk membeli garam dari para anggotanya yang kemudian disimpan dan dijuala nanti jika harga mulai beranjak naik.
“ Kami tidak ingin keuntungan hanya dinikmati para pengepul saja , oleh karena itu pada tahun 2011 atau 2012 ini KSU “ Margi Rahayu “ harus ikut membeli garam dari anggota atau petani yang lainnya. Jika nanti mendapatkan keuntungan tentunya para anggota akan merasakannya “, ujar Hamdan Pengawas KSU “ Margi Rahayu”.
Dengan pengelolaan usaha garam ke depan diharapkan kondisi KSU “ Margi Rahayu ‘ semakin solid dalam melayani anggotanya . Kini usaha simpan pinjam telah merambah ke luar kabupaten Demak setelah adanya perubahan Anggaran Dasar sehingga anggotanya telah menyebar ke kabupaten Jepara dan juga Kudus. Perkembangan koperasi ini bisa dilihat dari asset yang setiap tahun terus bertambah dan juga penambahan anggota setiap waktunya. (FM)

Musim Hujan Tiba , Harga Garam kedung mutih Demak Beranjak Naik


Demak –DMC : Hujan yang mulai mengguyur pesisir Wedung Demak mengakhiri musim garam tahun ini , ladang garam yang dahulu nampak memutih dengan garam hasil panen kini menyisakan air saja. Namun demikian musim garam tahun ini  bagi sebagian petani garam dianggap sebagai penyembuh luka ketika tahun yang lalu tak ada garam sama sekali. Sehingga meski tahun lalu merugi puluhan juta rupiah setiap petani , namun kini sudah terobati dengan simpanan garam mereka di dalam gudang yang cukup banyak.
Dari pantauan saat ini garam petani yang masih tersimpan dalam gudang masih puluhan ribu ton , dikarenakan penjualan mereka tidak begitu banyak. Selain mereka berniat menyimpan untuk menunggu harga garam bagus , juga dikarenakan mereka menunggu komitmen pemerintah untuk menyejahterakan petani garam. Mereka menjual hanya sesaat saja ketika harga masih tinggi Rp 25 ribu -Rp 30 ribu perkeranjang 30 Kg , tatkala harga mulai turun yaitu Rp 10 ribu -Rp 15 ribu perkeranjang  mereka mulai memasukkan garam ke gudang masing-masing.
“ Tahun ini kami menjual garam hanya beberapa keranjang saja , setelah itu garam hasil panen kami masukkan terus dalam gudang . Kalau tidak salah simpanan kami ada 2000 keranjang nanti saya jual ketika harga sudah tinggi “ , ujar Abdul Kalim (55) petani garam dari desa Kedungmutih yang ditemui wartawan anda Sabtu (5/11/2011)
Busri ( 45 ) pengepul garam dari desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak mengemukakan , datangnya musim penghujan tahun ini membuat harga garam beranjak naik. Akhir panen ini harga garam perkeranjangnya hanya Rp 10 ribu , namun beberapa hari ini ada kecenderungan mengalami kenaikan . Selain pasokan yang berkurang juga musim garam telah usai sehingga stok garam di pasaran sudah habis sehingga permintaan garam selalu naik. Dengan menipisnya stok para pengepul menjadikan harga di pasaran terus naik.
“Harga garam pada awal panen mencapai Rp 80 ribu -90 ribu perkwintalnya , pertengahan panen turun menjadi Rp 50 ribu -60 ribu  dan akhir panen Rp 25 ribu -35 ribu perkwintal . Nah ketika hujan mulai datang harga mulai beranjak naik ini sudah Rp 50 ribu perkwintal diatas truk . Tahun ini saya perkirakan petani garam di sini mengalami keuntungan yang lumayan karena semua gudang petani saat ini masih penuh garam “ , ujar Busri yang sudah lebih 15 tahun sebagai pengepul garam.
Menurut Busri , dengan harga garam saat ini yang mencapai Rp 50 ribu -Rp 60 ribu setiap kwintalnya para petani akan meningkat kesejahteraaan mereka , oleh karena itu suasana yang seperti ini harus dipertahankan terus. Meskipun ia pengepul namun ia peduli akan kesejahteraan petani garam , karena ia juga menggarap lahan garam. Dengan distop atau dikuranginya impor garam maka garam petani akan laku dipasaran , sehingga harga garam layak bagi mereka. Jika pemerintah mengimpor garam maka harus dilihat stok garam ditingkat petani masih ada atau tidak . Jika masih banyak garam petani maka garam imporpun harus dibatasi agar peredaran garam lokal habis dulu
“  Sebenarnya kami pengepul juga mengharapkan garam lokal laku dipasaran , oleh karena itu jika kebijakan impor garam ditinjau maka saya yakin petani akan sejahtera . Pemerintah mendatangkan garan impor jika benar-benar garam lokal habis , atau mengenakan biaya masuk yang tinggi sehingga harga garam impor lebih mahal jika dibandingkan garam lokal “ , tambahnya (FM)

Terasi Produksi Kedungmutih Demak , Rasanya Lebih Enak


Terasi setengah jadi siap kirim
Demak – DMC : Desa Kedungmutihh kecamatan Wedung kabupaten Demak selain dikenal sebagai sentranya Garam , juga sebagai pemasok hasil laut. Selain berbagai jenis ikan , udang dan kepiting juga dikenal sebagai desa penghasil terasi yaitu bumbu masak tradisional yang berbahan baku ikan, udang, rebon dan reket. Terasi dari desa Kedungmutih selain dikenal enak rasanya juga harganya lebih murah jika dibandingkan dengan yang lain . Karena keaslian dan kelezatannya itulah maka terasi yang khusus berbahan baku udang rebon dan reket ini harus dipesan lebih dahulu .
“ Kalau yang berbahan ikan giling seperti ini setiap waktu kami selalu ada bahkan pasokan kami cukup banyak karena setiap minggu sekali kali kirim bahan terasi ini ke daerah Lasem Rembang untuk diolah lagi menjadi terasi jadi “, ujar Shofyan (55) pengusaha pengeringan ikan dan terasi pada kabarseputarmuria yang menemuinya di braknya Rabu ( 19 /10/2011)
Shofyan yang didampingi anaknya Jumadi (25) mengatakan , terasi berbahan baku udang Rebon dan reket ini selain dikenal enak rasanya juga jarang yang memproduksi karena bahan bakunya setiap waktu belum pasti ada. Sehingga pada musim-musim rebon dan reket ini keluar maka dia membeli sebanyak-banyaknya untuk di jemur sebagai bahan baku terasi kualitas nomor satu . Rebon dan reket kering tersebut diolah dengan ditambah bahan-bahan lain seperti gula, garam dan ramuan lainnya sehingga menjadi terasi super yang enak rasanya .

Terasi Super
Ditingkat pengepul harga terasi berbahan baku udang rebon dan reket ini harganya berkisar  Rp 35 ribu – 40 ribu setiap kilonya , namun ditingkat pengecer di pasar-pasar tradisional harga terasi kualitas baik ini bisa sampai Rp 60 ribu – 75 ribu setiap kilogramnya.  Namun demikian terasi jenis super ini tidak ada di sembarang pasar tradisional , kebanyakan terasi yang beredar di pasar tersebut kebanyakan berbahan baku gilingan ikan kering yang dicampur dengan terasi super . Ciri yang mudah untuk membedakannya yaitu warna terasi super cukup khas yaitu berwarna abu-abu gelap , namun jika terasi biasa warnanya kuning kemerah-merahan.
“ Terasi kualitas biasanya warnanya kuning kemerah-merahan , karena bahan bakunya dari ikan kering yang digiling halus dan dicampur bahan lainnya, nah terasi seperti itulah yang setiap waktu ada karena pasokan ikan kering setiap hari selalu ada “, tambah Shofyan sambil menunjukkan tumpukan zak plastic berisi ikan kering.
Selain  membuat terasi , shofyan juga mengolah  berbagai jenis ikan kering baik asin maupun tawar yang dibeli dari para nelayan disekitar desanya . Ikan- ikan basah itu dikeringkan menurut jenisnya masing-masing , setelah jadi ikan tersebut selain diambil para pengepul ,juga di pasarkan sendiri ke daerah Pati , Rembang dan juga Semarang . Setiap seminggu dua kali ia kirim ikan kering ke pengepul langganannya dengan kendaraan truk kecil berkapasitas 4- 5 ton. Ikan-ikan kering darinya cukup diminati oleh para pengepul disana yang selanjutnya untuk diolah kembali atau dijual ke pasar-pasar tradisional di sana.Untuk pemasaran ikan kering ini tidak ada kendala sama sekali.
Udang Rebon Bahan baku terasi
Ketika ditanya kendala lain yang menghadapinya adalah kurangnya modal untuk perputaran barang dagangan , terutama jika produksi ikan nelayan sedang banyak karena ketersediaan modal kurang meski harganya murah tidak bisa ambil dagangan. Selain itu juga faktor cuaca terutama jika musim hujan tiba produksi ikan banyak namun kesulitan untuk mengolahnya karena panas matahari yang kurang. Oleh karena itu dia mengharapkan adanya bantuan pembinaan dari pemerintah agar usaha yang dirintisnya puluhan tahun yang lalu terus bisa berjalan dengan baik.
“ Ya selain modal kami berharap adanya alat pengering ikan yang bisa dipergunakan dikala musim penghujan . Dengan adanya alat tersebut jika panas kurang kita terus bisa mengolah ikan . Tolong ini disampaikan pada pemerintah agar kami mendapat pembinaan agar usaha kami lancar”, harap Jumadi putra Sofyan pemilik usaha pengeringan ikan “Sopan Jaya “ desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak No HP : 081325341124 (FM)

KKP Gandeng IPB Berdayakan Masyarakat Pesisir

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) akan bekerja sama untuk mendukung pelaksanaan Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT), khususnya dalam hal penelitian dan pengembangan serta pengabdian. “Program ini akan memberi semangat dan gerakan baru bagi kebangkitan dan kemajuan desa-desa pesisir di Indonesia,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo, dalam sambutannya di acara launching PDT dan penandatangan Kesepakatan Bersama antara KKP dan IPB hari ini (15/12) di Jakarta.
Lebih lanjut Sharif menyebut bahwa  Penguatan ketahanan masyarakat pesisir secara sosial, ekonomi dan lingkungan merupakan salah satu prioritas KKP. Hal ini berdasarkan pada pertimbangan bahwa masyarakat pesisir di Indonesia masih menghadapi empat persoalan utama. Pertama, masih tingginya tingkat kemiskinan, dimana pada tahun 2010 angka kemiskinan mencapai angka 7,8 juta jiwa yang tersebar di 10.640 desa pesisir. Kedua, masih tingginya kerusakan sumberdaya pesisir. Ketiga, masih kurangnya kemandirian organisasi sosial desa dan lunturnya nilai-nilai budaya lokal. Keempat, masih rendahnya infrastruktur desa dan kesehatan lingkungan permukiman.

Sebelumnya KKP juga telah melaksanakan sejumlah program dan kegiatan yang berbasis pada Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Sebanyak 4000 desa pesisir dari 10.639 desa pesisir di Indonesia telah tersentuh pembangunan kelautan dan perikanan. Dengan demikian masih terdapat 6.639 desa pesisir yang belum terjangkau program dan kegiatan pembangunan di wilayah pesisir. "Program PDPT  merupakan komitmen Pemerintah Indonesia dalam mengurangi risiko masyarakat dari bencana alam, sekaligus merupakan bagian dari komponen utama dalam mendukung kebijakan industrialisasi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan", jelas Sharif.

Sebagai pendukung kebijakan industrialisasi kelautan dan perikanan, program PDPT merupakan benteng ekologis dalam mengurangi resiko bencana dan dampak perubahan iklim, penguatan desa-desa pesisir terluar yang menjadi basis geopolitik untuk ketahanan nasional, dan penguatan identitas bahari berdasarkan nilai-nilai budaya lokal. "Program PDPT merupakan wujud dari intervensi KKP", ujarnya.

Intervensi KKP melalui pelaksanaan program PDPT dilakukan untuk menata dan meningkatkan kehidupan desa pesisir/nelayan berbasis masyarakat, menghasilkan output pembangunan secara fisik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir menurut permasalahan dan prioritasnya, menyediakan pembelajaran secara tidak langsung kepada masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil agar dapat menemukan cara-cara pemecahan masalah dan kebutuhannya sendiri dengan memberdayakan segenap potensi yang ada, dan memfasilitasi peran dan fungsi masyarakat sebagai agen pembangunan kelautan dan perikanan.

Namun demikian, Desa Pesisir Tangguh pada setiap wilayah akan terwujud jika terdapat sinergitas antara program dan kegiatan lintas sektor yang dilakukan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Ormas, dunia usaha serta stakeholders kelautan dan perikanan lainnya, termasuk dukungan dari Pemerintahan Desa/Kelurahan serta masyarakat.

Peluncuran program PDPT diawali dengan penandatangan Kesepakatan  Bersama antara KKP dengan IPB dalam hal Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian pada Masyarakat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.  Kerjasama yang ditandatangani Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo dan Rektor IPB, Prof.Dr. Herry Suhardiyanto, MSc  ini akan berjalan selama lima tahun bertujuan untuk lebih meningkatkan kerjasama dengan mengoptimalkan kemampuan, mensejahterakan masyarakat desa pesisir dan pulau-pulau kecil. Sedangkan ruang lingkup kesepakatan kerjasama meliputi penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi; pengabdian pada masyarakat; peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan; pertukaran data dan informasi; penyediaan dan pertukaran tenaga ahli dan pemanfaatan sarana dan prasarana.

Jakarta, 15 Desember  2011
Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi


Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc


Narasumber:
1.    Dr. Sudirman Saad (HP.0811154389)
       Dirjen KP3K
2.    Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc  (HP. 0811836967)
       Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi 

16 Des 2011

Produksi Garam PUGAR Kabupaten Demak Lampaui Target

DEMAK – Produksi garam rakyat melalui program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) Kabupaten Demak 2011 melampaui target. Dari target sebanyak 16.528 ton, petani garam lima desa di Kecamatan Wedung mampu memproduksi 16.929 ton. Hasil itu menunjukkan capaian sebesar 103 persen.

Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Demak Ir H Wibowo MM mengungkapkan, program PUGAR yang diterapkan dengan sistem buttom up telah membantu meningkatkan produksi garam rakyat di wilayah Wedung, baik secara kuantitas maupun kualitas.

"Alhamdulillaah PUGAR Kabupaten Demak 2011 hasilnya cukup baik. Bantuan modal untuk pengolahan garam yang disalurkan langsung ke 20 kelompok petani garam rakyat di Desa Babalan, Kedungmutih, Kedungkarang, Kendalasem dan Tedunan terbukti berhasil meningkatkan produksi dari semula 60 ton per hektar menjadi 80 ton setiap hektarnya," kata Wibowo, di sela Lokakarya PUGAR Kabupaten Demak 2011, belum lama ini.

Menurutnya, jumlah produksi garam rakyat di lahan seluas 206,6 hektar yang dikelola melalui program PUGAR selama empat bulan terakhir sebesar 16.929 ton. Jika ditambah dengan produksi garam rakyat non-PUGAR di lahan seluas 751 hektar yang jumlahnya mencapai 38.553 ton, maka total produksi garam rakyat di Kabupaten Demak musim ini sebanyak 55.482 ton.

Kabid Kelautan Ir Heru Budiyono MP menambahkan, mengenai harga jual, diakui ada tren menurun. Harga tertinggi Rp 50 ribu per kilogram terjadi pada awal panen sekitar Juli. Namun lambat laut menurun hingga Rp 30 ribu per kuintal pada panen raya. Meski demikian petani masih terhitung untung.

“Agar harga tak semakin jatuh, petani menyiasatinya dengan hanya menjual sekitar 35 persen dari total produksi tahun 2011 ini. Sedangkan 65 persen sisanya disimpan dan dijual saat harga sudah membaik," imbuh Heru Budiyono, yang juga PPK PUGAR Kabupaten Demak. **Kontributor_NDR