translate

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

30 Jan 2012

Musim Hujan Abrasi Pantai Jepara Selatan Mengkhawatirkan Warga

Musim Hujan Abrasi Pantai Jepara Selatan Mengkhawatirkan Warga

JEPARA -  Musim hujan bercampur angin yang melandakawasan Jepara bagian Selatan membuat sejumlah warga                             
yang tinggal di pesisir pantai harus waspada. Selain angin yang membuat rumah mereka kehilangan genting , ombak besar juga meluluh lantakkan pantai dan juga tambak mereka. Sehingga jika tiba-tiba hujan datang dibarengi dengan angin mereka harus waspada untuk bersiap-siap menyelamatkan diri jika tiba-tiba datang bencana.
” Tahun ini selain curah hujan yang tinggi juga angin cukup besar , sehingga kawasan pantai porak poranda diterjang ombak . Selain kami tidak bisa miyang ke laut juga merasa was-was jika bencana datang ”, ungkap Salim (55) nelayan asal dukuh Bandengan desa Surodadi kecamatan Kedung kabupaten Jepara.
Dengan ombak dan angin yang besar menyebabkan pantai terkikis dari waktu ke waktu , sehingga makin lama laut makin dekat dengan pemukiman mereka. Dari pantauan warga setiap tahun kerusakan pantai berkisar 10 – 20 meter setiap tahunnya . Jika ombaknya makin besar kerusakan makin parah , dalam setahunnya bisa sampai 50 meter. Oleh karenanya saat ini pemukiman penduduk makin dekat dengan bibir pantai . Jika hal ini terus terjadi kemungkinan 10 tahun yang akan datang mereka harus direlokasi karena abrasi terus meraja lela.
” Dulu rumah kami ini jauh dari bibir pantai , namun saat ini sudah cukup dekat dengan pantai oleh karena itu jika ombak besar datang rasanya dihati cukup miris ”, tambah pak Salim yang sehari-hari bejkerja sebagai Nelayan.
Selain pantai desa Kedungmalang, Panggung, Surodadi abrasi ini juga menghantam pantai desa Tanggul Tlare dan juga Semat . Dulu pantai di dua desa ini cukup rimbun pohon bakaunya , namun saat ini beberapa tempat amblas karena gempuran ombak di musim penghujan. Oleh karena itu posisi jalan raya Semat – Kedung makin dekat dengan bibir pantai , hal ini membuat kekhawatiran tersendiri bagi pemilik tanah di dekat pantai . Untuk mengatasi gempuran ombak tersebut mereka membuat tanggul dari bambu yang diisi dengan batu , namun menurut pengamatan sepertinya sia-sia usaha mereka . Sehingga mereka menghentikan usaha mengatasi abrasi tersebut.
” Inisiatif mereka sih ingin menghentikan abrasi , namun sepertinya sia-sia upaya mereka langkah yang paling bagus ya menanggul dengan bis beton yang banyak . Namun biayanya sangat besar ”, ujar seorang warga desa tanggul Tlare yang diminta komentarnya seputar abrasi yang melanda pantai Selatan Jepara.
Selain masalah abrasi , beberapa hari yang lalu petani tambak juga digegerkan dengan datang rob ”bandhang” (Tiba-tiba) sehingga membuat tambak ikan mereka tergenang air. Kerugian selain ikan didalam tambak yang keluar , juga beberapa gudang garam kemasukan air rob , sehingga beberapa gudang mengalami kesusutan garam yang ditimbun petani. (Fatkh.M)

Hamdan Kepala Desa Kedungmutih Motor baru Kinerja Lebih Meningkat

Motor baru Kinerja Lebih Meningkat
Hamdan Kepala Desa Kedungmutih dengan motor barunya
– Bagi Hamdan (56) Kepala Desa Kedungmutih jabatan adalah suatu amanat yang harus dijalankan sesuai aturan , selain itu sebagai pimpinan harus bisa menjadi contoh rekan kerja. Prinsip itulah yang ia pegang kuat-kuat sehingga ia bisa menduduki jabatan Kepala Desa hingga dua periode dan sudah dijalani lebih 10 Tahun. Oleh karena itu ketika pemerintah daerah kabupaten Demak lewat Dana ADD memberikan motor baru berupa Honda Vario menggantikan Honda Supra iapun menerimanya dengan senang hati.
”     Ya gembira sekali pemerintah daerah memberikan motor inventaris baru pada Kepala Desa, selain sebagai simbol prestise juga untuk memperlancar operasional Kepala Desa untuk melayani warganya juga berkoordinasi dengan atasan di kecamatan atau kabupaten ”, kata Hamdan pada Warta Demak sambil menunjukkan motor barunya.
Motor baru Honda Vario menurut Hamdan adalah sebagai pengganti motor lama Honda Supra yang sudah lebih 5 tahun beroperasi. Agar mobilitas Kepala Desa lebih lancar lagi maka diadakan penggantian motor baru. Untuk motor lama secara langsung akan berpindah penggunaan pada Carik desa yang juga membutuhkan sarana untuk operasional. Selanjutnya kedua motor inventaris tersebut dipegunakan sepenuhnya untuk kelancaran pelayanan kepada masyarakat.
” Selain motor untuk Kepala Desa kita juga mendapatkan motor inventaris untuk Ketua BPD berupa Honda Legenda yang diterima bersamaan motor untuk Kepala desa tahap pertama di era kepemimpinan Bu Endang. Saat ini motor tersebut menjadi kewenangan Ketua BPD ” , tambah Hamdan.
Menurut Hamdan dengan adanya motor baru ini , dia mengharapkan kepada rekan-rekannya Kepala Desa agar terus meningkatkan kinerjanya dalam rangka melayani masyarakat, juga memimpin dan mengendalikan pemerintahan desa. Apalagi dalam era pengajuan RUU tentang desa maka kepala desa dituntut lebih bekeja keras dan juga mengoptimalkan Sumber daya Manusia yang ada. Apabila nanti RUU tersebut disyahkan dan sesuai dengan draft pengajuan yang ada . Desa mempunyai hak otonomi khusus dan juga anggaran yang cukup besar dalam rangka mengatur pemerintahan desanya . Oleh karena itu jika tidak di dasari SDM yang kuat maka akan terjadi penyelewengan yang akan menyulitkan Kepala Desa itu sendiri.
” Kalau benar negara akan mengucurkan dana untuk desa sebesar 1 Milyar jika tidak ada kesiapan SDM akan terjadi kekisruhan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Untuk ADD yang hanya berapa ratus juta saja kadang-kadang masih ada Kepala Desa yang keteteran dalam pelaksanaan serta pertanggungjawabannya ”, tukas Hamdan yang juga Penasehat Paguyuban Kepala Desa Se kecamatan Wedung.
Namun demikian ia berharap RUU itu segera disyahkan , agar penyelenggaraan pemerintah desa lebih maksimal dalam kinerjanya . Selain itu diharapkan kesejahteraan masyarakat desa lebih meningkat dengan penambahan anggaran untuk operasional dan pembangunan di desa. (Fatkhul Muin

12 Jan 2012

KSU “ Margi Rahayu “ Kedungmutih Demak, KEMBANGKAN EKONOMI KERAKYATAN

12-01-2012

Terus Kembangkan Ekonomi Kerakyatan Di Pedesaan

KEDUNG MUTIH -Lembaga Keuangan non Bank yang saat ini ikut menggerakkan ekonomi kerakyatan adalah Koperasi. Karena azasnya yang kekeluargaan itulah maka koperasi ini tumbuh dari rakyat  dan juga melayani rakyat itu sendiri. Jumlah koperasi di Indonesia jika dihitung saat ini ada ratusan ribu yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Dengan jumlah yang cukup besar itulah maka Negara menaungi dan membinanya dalam sebuah kementrian khusus yaitu Menteri Negara Urusan Koperasi  dan UKM yang saat ini di pimpin oleh Syarifudin Hasan. Diharapkan dengan tumbuh dan berkembangnya Koperasi di Indonesia lebih dapat meningkatkan taraf hidup dan ekonomi rakyat.
Seperti halnya  Koperasi Serba Usaha “ Margi Rahayu” desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak ini juga tumbuh dari keinginan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya sehingga pada tahun 1999 yang lalu mendirikan koperasi. Dengan jumlah pendiri awal 40 orang dan Simpanan Pokok sebesar Rp 50.000,- maka berdirilah koperasi yang beranggotakan petani, pedagang, nelayan dan juga pegawai swasta. Dengan modal awal yang kecil itulah koperasi ini membuka usaha simpan pinjam untuk anggotanya .
Dengan penuh ketekunan , kejujuran dalam mengelola koperasi setiap tahunnya ada penambahan Simpanan Anggota yang cukup signifikan. Sehingga setelah kurang lebih sepuluh tahun berkiprah dalam melayani anggotanya kini koperasi “Margi Rahayu “ telah eksis dengan  jumlah simpanan anggotanya kini telah mencapai1,5 Milyar  lebih. Simpanan sejumlah itu setiap harinya berputar untuk melayani anggota yang membutuhkan modal untuk berbagai macam usaha, diantaranya usaha perdagangan, tambak udang dan Bandeng, usaha garam rakyat dan kebutuhan lainnya.
“ Saat ini setiap harinya kami mengeluarkan pembiayaan untuk anggota  sekitar 30 juta lebih, jumlah itu setiap tahunnya akan terus bertambah , oleh karena itu pada tahun 2012 ini    kami akan menambah modal dengan mengajukan kredit pada Bank atau mengajukan pinjaman bergulir pada LPDB dibawah Kementrian Koperasi dan UKM , mudah-mudahan hal ini dapat terealisasi agar kami lebih prima dalam nelayani pembiayaan Anggota “ , ujar Hamzawi Anwar, BA Manager KSU “ Margi Rahayu” Kedungmutih
Dengan terus bertambahnya anggota maka kebutuhan akan modal juga harus bertambah , oleh karena itu agar anggota dapat terlayani semua maka fihaknya menerapkan system tunggu dalam pencairan pembiayaan. Pembiyaan yang diajukan tidak dapat langsung cair hari itu namun menunggu giliran setelah uang terkumpul dari angsuran anggota . Selain itu Koperasi juga harus menyiapkan sejumlah dana simpanan anggota yang diambil sewaktu-waktu .
Bertambahnya permintaan pembiayaan anggota maka manajeman harus mencarikan jalan keluar dalam rangka tersedianya modal untuk melayani anggota . Yang saat sudah keluar  lewat KUR ( Kredit Untuk Rakyat ) lewat BRI Cabang Demak sebesar Rp 200 Juta dan kini tinggal 110 juta , diharapkan setelah kredit ini cair pelayanan anggota lebih lancar , semua pembiayaan akan dapat dicover dari dana pinjaman tersebut.  Selain itu pengelola akan lebih focus  pada pelayanan pembiayaan kepada angota  , sedangkan simpanan anggota tidak menjadi satu-satunya penyediaan modal seperti ketika koperasi ini berdiri. Namun demikian koperasi tidak menutup diri untuk kerjasama pada semua fihak asal saling menguntungkan, seperti halnya kerjasama dengan BNI syariah dalam rangka menerima pembayaran Listrik dari masyarakat yang saat ini menggunakan system on line.
Zaenal Fathoni, Ama Pd Ketua KSU “Margi Rahayu”  menjelaskan, KSU “ Margi Rahayu” awal berdirinya memang ditujukan untuk meningkatkan perekonomian anggotanya , oleh karena itu fihaknya terus berupaya bagaimana anggota dapat terlayani dengan baik untuk pembiayaan maupun untuk penyimpanan. Anggota yang kekurangan modal untuk usaha dapat mengajukan pembiayaan kepada koperasi, begitu juga anggota yang mempunyai uang lebih dapat menyimpan pada koperasi. Margin  atau keuntungan koperasi adalah selisih bagi hasil yang diterima dari pengguna modal setelah dikurangi bagi hasil untuk pemilik modal dan biaya operasional.
Dari tahun ke tahun Sisa Hasil Usaha atau Margin yang didapatkan KSU “Margi Rahayu “   semakin  meningkat seiring dengan penambahan modal , SHU itu diterima anggota secara berimbang tergantung dari besar kecilnya simpanan dan bagi hasil yang masuk ke koperasi. Selain diberikan anggota dalam setiap tahun sekali dalam RAT ( Rapat Anggota Tahunan ), laba dari koperasi itu juga digunakan untuk pembelian inventaris kantor, diantaranya untuk pembelian computer, mebeler , kendaraan operasional dan perbaikan kantor.
“ Manfaat dari koperasi adalah membuka lapangan pekerjaan bagi lulusan terdidik menurut posisisnya masing-masing. Diantaranya menjadi Manager, Kasir, tenaga lapangan dan juga tenaga lainnya bila koperasi tersebut mempunyai usaha yang lainnya misalnya bergerak dalam bidang jasa maupun perdagangan. Seperti di Koperasi ini paling tidak ada 5 tenaga kerja yang dapat ditampung , jika dikalikan ribuan koperasi ketemunya juga ratusan ribu orang yang bergerak dalam usaha koperasi ini “ , jelas Zaenal Fathoni yang setiap hari bekerja sebagai Guru SD menutup sua ( FM)

SLAMET SETYA BUDI,PEMOTONG RAMBUT YANG HANDAL

12-01-2012

KEDUNG MUTIH-Potong rambut atau tukang cukur saat ini merupakan salah satu pekerjaan yang harus dilirik bagi yang mengaku dirinya pengangguran , betapa tidak meski hanya memotong rambut saja namun upah yang didapatkan cukup lumayan. Hal inilah yang mendorong Slamet Setia Budi warga desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak ogah alih profesi karena setiap harinya mampu menangguk rupiah dari kepala-kepala yang di cukurnya.
Setiap hari paling minim dia mendapatkan order menggunduli, memendekkan , merapikan rambut kepala 6 – 5 , belum yang cukur jambang dan jenggot. Tarip yang ia patok setiap kepalanya Rp 3.000,- – 4.000,- dari anak kecil, dewasa, orang tua , pria atau wanita semua ongkos yang dikeluarkan sama rata. Jika hari-hari biasa pendapatan yang ia dapatkan 15 ribu – 21 ribu namun jika ramai seperti menjelang puasa atau hari raya pendapatannya bisa melonjang 30 ribu – 45 ribu rupiah , karena kebanyakan orang ingin tampil rapi di hari Raya Idul Fitri.
Di bilik sederhana dibelakang rumahnya ia menanti pelanggannya yang datang dari desa sendiri dan desa-desa sekitarnya. Selain sebagai tempat kerjanya sehari-hari yang berisi kaca besar , kipas angin kecil , meja kecil berisi peralatan cukur dari gunting manual dan electric dan kursi untuk pelanggan, dibagian belakang ia taruh bale-bale kecil untuk beristirahat . Maklum sampai saat ini ia masih njomblo alias belum punya gandengan sehingga kesehariannya ia habiskan dalam bilik cukur yang ia buat dari bambu dan papan bekas, agar kelihatan asri di depan biliknya itu ia taruh pot-pot yang berisi tanaman hijau dan kembang-kembang. Di samping pintu biliknya ia pasang waktu prakteknya yaitu jika pagi jam 08.00 – 15.00 dan malam jam 18.00 – 21.00 seperti layaknya waktu praktek dokter saja .
” Biar keren mas selain itu juga sebagai patokan untuk pelanggan yang datang kemari karena sering mereka datang pas saya tidak ada jadi ya mereka jadi kecewa berat , selain itu juga kami pasang bel ini yang berhubungan dengan rumah meski bilik ini terbuka kadang kami mengerjakan pekerjaan di rumah membantu orang tua . Jadi mereka tinggal ngebel aja saya langsung datang ”, ujar Slamet Setia Budi yang mengaku menjadi tukang cukur lima tahun lebih.
Slamet Setia Budi mengaku profesi menjadi tukang potong rambut ini bukan cita-citanya sejak dulu , karena setamat Madrasah Aliyah ia ingin merantau ke Jakarta seperti teman-temannya , namun sebelum kesampaian keinginannya musibah datang ia kecelakaan sehingga kakinya patah dan harus dirawat beberapa bulan di rumah sakit. Usai sembuh dari kecelakaan iapun mencoba mempraktekkan kebisaannya memotong rambut dari tetangga satu ke tetangga lainnya , karena merasa nyaman bekerja sebagai tukang cukur akhirnya ia bangun bilik kecil untuk melayani pelanggannya sehingga pelanggannya yang datang kepadanya.
Adapun ketrampilan potong rambut ia dapatkan dari melihat orang lain dengan seksama yang kemudian ia praktekkan sendiri , dari kreatifitasnya itu ia kini menguasai beberapa model potong rambut yang disukai anak-anak, remaja, sampai orang tua . Jika ada model baru potongan di televisi atau majalah iapun dengan cepat menyesuaikan model-model itu.
” Sekarang remaja-remaja yang cukur disini minta model-model potongan yang dilihat ditelevisi atau majalah, ya saya menyesuaikan dengan keinginan mereka, satu hasilnya bagus , yang lain ikut-ikutan jadi ya lumayan langganan saya bertambah terus”, cerita Slamet .
Ketika ditanya modal yang dikeluarkan untuk membuka usaha potong rambut ini , Slamet mengemukakan untuk peralatannya cukup murah paling beli gunting manual dan electric, semprot rambut, bedak , sikat rambut , pisau cukur , kain penutup dan sisir jika dihitung tidak lebih dari 1 juta rupiah . Untuk tempatnya tergantung bisa kontrak atau buat sendiri , dia dulu membuat bilik cukur itu kurang lebih menghabiskan 1 juta rupiah .
Sehingga dulu modal yang dikeluarkannya sekitar 2 juta rupiah itupun hutang dari kakaknya . Namun saat ini hutang itupun sudah dilunasinya , bahkan dari hasil potong rambut yang ia tekuni selama ini , Bisa membeli satu Unit Sepeda Motor . Iapun mempunyai tabungan harian yang ia simpan di Koperasi ” Margi Rahayu” desa Kedungmutih . Selain itu ia juga bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-harinya dan kebutuhan lainnya seperti beli pakaian , jalan-jalan dan HP.
Ketika ditanya resep keberhasilannya sebagai tukang cukur, Slamet dengan rendah hati mengatakan semua usaha yang dijalankan harus telaten dan tidak patah semangat. Selain itu harus banyak belajar dan berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu dia membuka selebar-lebarnya bagi rekan-rekan remaja yang juga ingin terjun menekuni usaha sebagai tukang cukur, selain modalnya kecil resiko kerugiannya juga sangat minim ini cocok bagi remaja yang saat ini baru tidak pekerjaan alias menganggur,
Ini hitung-hitungannya jika ingin membuka usaha potong rambut sederhana:
1. Untuk membeli peralatan Rp 1.000.000,-
2. Membuat tempat / kontrak Rp 1.000.000,-
Jumlah Rp 2.000.000
Penghasilan sehari-hari : Rp 30.000,- – 40.000,-
Jika sehari menabung Rp 10.000,- maka modal akan kembali dalam waktu 8 bulan .
Selamat mencoba. (FM)

Pabrik Garam Iodium Kedungmutih Demak, Kian Eksis

Garam Iodium Siap kirim (Foto: FM)
Demak - Keberadaan pabrik garam yodium di Desa Kedungmutih Kecamatan Wedung cukup membantu petani garam setempat. Di saat harga garam krosok jatuh, petani Kedungmutih tak terlalu terkena dampak lantaran garam mereka diserap oleh pabrik. “Petani garam Kedungmutih tak terlalu risau dengan anjloknya harga garam krosok. Sebab, pihak pabrik membeli garam mereka dengan harga layak. Yang jelas petani tetap untung,” kata Kades Kedungmutih H Hamdan. Disampaikan, petani garam Kedungmutih rata-rata tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUBe) Lancar Sejahtera. KUBe itupula yang mengelola pabrik garam beryodium. ”Kini, kemampuan pabrik dalam memproduksi garam beryodium semakin besar. Hasil produksinya juga telah menembus pasaran Jawa Tengah dan Jawa Barat,” ungkapnya, yang juga Ketua KUBe Lancar Sejahtera. Menurutnya, kemampuan pabrik dalam memproduksi garam beryodium perhari mencapai 3 ton. Satu ton dalam bentuk kemasan dan dua ton curah. Adapun biaya produksi perbulannya mencapai Rp 117 juta. Termasuk untuk pengadaan garam krosok yang mencapai Rp 100 juta sendiri. Kemudian garam beryodium dalam kemasan 200 gram dijual dengan harga Rp 300. ”Saat seperti ini petani tidak membuat garam. Namun kami tetap berproduksi lantaran stok kami hasil penyerapan kemarau lalu cukup banyak,” ungkapnya. Selain dipasok petani setempat, lanjut Hamdan, pabriknya juga menyerap garam krosok dari Desa Tedunan, Babalan, Kedungkarang, Kendalasem, Berahan Kulon dan Berahan Wetan. Pengadaan garam krosok dilakukan mulai Agustus hingga awal Nopember. Sedangkan dalam hal pemasaran di tingkat lokal, pihaknya memperoleh bantuan dari beberapa lembaga. Di antaranya Dinas Kesehatan, Disperindag, PKK, puskesmas-puskesmas dan sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Demak.
Pabrik garam Iodium Kedungmutih Demak (Foto: FM)
Hamdan menambahkan, awal pendirian pabrik garam memperoleh bantuan dari pemerintah daerah dan pusat. APBD Kabupaten tahun 2008, mengalokasikan dana sebesar Rp 160 juta untuk pengadaan bangunan. Kemudian dana yang dari APBN digunakan untuk pengadaan mesin. KUBe Lancar Sejahtera juga berkontribusi sebesar Rp 100 juta untuk pembuatan gudang penampungan garam krosok. Kemudian tahun 2010, APBD kabupaten kembali mengalokasikan dana Rp 75 juta untuk menambah 1 unit mesin open, meningkatkan daya listrik dan pengadaan sejumlah perangkat. (Anang/Humas Pemda Demak)

Hamdan , Kepala Desa Kedungmutih Yang Mengelola Pabrik Garam


Hamdan dan Produk Garam iodium
Demak – DMC : – Jabatan Kepala Desa bagi Hamdan (56) adalah suatu amanat yang harus dijalankan untuk memberdayakan warganya. Oleh karena itu dalam kesehariannya selain menjabat sebagai orang nomor satu di desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak dia juga sebagai Ketua Kelompok “ Lancar Sejahtera” yang bergerak dalam usaha garam rakyat. Selain memproduksi garam iodium untuk konsumsi , juga berdagang garam untuk kebutuhan industry dan rumah tangga. Namun demikian kesibukannya dalam  mengelola garam iodium tidaklah menganggu kewajiban utamanya sebagai aparat pemerintah yang harus melayani warganya. Justru dalam mengelola pabrik garam iodium ini ia dia benar-benar memberdayakan warganya dalam hal ekonomi.
“  Selain beranggotakan 10 orang petani garam , pabrik kami juga mempekerjakan 10 – 15 tenaga kerja untuk pengolahan garam iodium . Belum lagi petani garam yang yang kami tampung hasilnya “, ujar Hamdan pada wartawan yang menemui di pabriknya Minggu (9/10/2011).
ukuran 150 gr
Hamdan memaparkan berdirinya pabrik garam yang ia kelola berawal dari desakan petani garam kepada pemerintah agar di kabupaten Demak berdiri sebuah pabrik garam karena Demak merupakan penghasil garam rakyat yang cukup besar. Usulan tersebut ditindak lanjuti oleh pemerintah dengan dikeluarkannya bantuan berupa bangunan pabrik pada akhir tahun 2008,sedangkan tanah milik kelompok . Sedangkan peralatan untuk pengolahannya bantuan dari Dirjen Kimia Agro Kantor Kementrian Perindustrian dan Perdagangan Pusat. Untuk operasionalnya berupa pembelian bahan baku , bahan bakar , tenaga kerja , biaya pemasaran semua hasil dari urunan anggota sejumlah 10 orang .
“ Pada awalnya perjalanan pabrik garam ini penuh rintangan karena ini baru pertama , sehingga biaya pemasaran dan juga publikasinya membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun saat ini kami telah memiliki daerah pemasaran tersendiri yaitu Subang, Kuningan, dan Indramayu Jawa Barat. Selain itu kami juga terus membuka daerah pemasaran baru , dam juga membuka selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin bekerja sama memasarkan garam iodium kami “, tambah Hamdan.
Ukuran 250 gr
Hamdan memaparkan berdirinya pabrik garam yang ia kelola berawal dari desakan petani garam kepada pemerintah agar di kabupaten Demak berdiri sebuah pabrik garam karena Demak merupakan penghasil garam rakyat yang cukup besar. Usulan tersebut ditindak lanjuti oleh pemerintah dengan dikeluarkannya bantuan berupa bangunan pabrik pada akhir tahun 2008,sedangkan tanah milik kelompok . Sedangkan peralatan untuk pengolahannya bantuan dari Dirjen Kimia Agro Kantor Kementrian Perindustrian dan Perdagangan Pusat. Untuk operasionalnya berupa pembelian bahan baku , bahan bakar , tenaga kerja , biaya pemasaran semua hasil dari urunan anggota sejumlah 10 orang .
“ Pada awalnya perjalanan pabrik garam ini penuh rintangan karena ini baru pertama , sehingga biaya pemasaran dan juga publikasinya membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun saat ini kami telah memiliki daerah pemasaran tersendiri yaitu Subang, Kuningan, dan Indramayu Jawa Barat. Selain itu kami juga terus membuka daerah pemasaran baru , dam juga membuka selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin bekerja sama memasarkan garam iodium kami “, tambah Hamdan.
Saat ini produk garam iodium bermerk “ lumba-lumba” terdiri dari dua ukuran kemasan 150 gr dari pabrik harganya Rp 300,- dan berukuran 250 gr harganya Rp 400 rupiah. Selain  itu pabrik juga memproduksi garam krosok local berodium dengan ukuran 1 Kg seharga Rp1.000,- yang telah dibungkus dengan rapi. Fihaknya juga menyediakan pembelian garam iodium dengan ukuran besar mempergunakan zak-zak besar , sehingga bisa dipaking lagi di tempat yang membutuhkan. Keunggulan garam merk lumba-lumba ini murni produk local sehingga rasanya lebih enak jika dibandingkan dengan produk yang sama yang kebanyakan dicampur garam import.
Dengan adanya pabrik garam bermerk lumba-lumba ini diharapkan dapat memberdayakan masyarakat utamanya para petani garam yang ada didesa Kedungmutih , selain garam bisa dibeli dengan harga yang bagus juga membuka lapangan pekerjaan bagi keluarga mereka. Misalnya dengan bekerja di pabrik sebagai tenaga angkut , tenaga pengolahan  dan juga tenaga pembungkusan garam iodium. (FM)

Dahlan Iskan Punya Strategi Untuk Genjot Kualitas Garam Lokal


Jakarta – Kementerian BUMN punya kepentingan dalam hal meningkatkan kualitas dan produksi garam lokal. Saat ini ada perusahaan plat merah yang mengkhususkan bidang garam yaitu PT Garam. Menteri BUMN Dahlan Iskan punya rencana akan melapisi lahan garam sebanyak-banyaknya. Hal ini untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam dan menstop impor gram khususnya garam konsumsi
“Kasarnya kita akan melapisi dengan ‘plastik’ setiap lahan garam yang ada, karena dengan cara itu produksi dan kualitas garam dapat ditingkatkan,” katanya, di Kantor Kementerian BUMN, Jumat (16/12/11).
Menurutnya selama ini, kualitas satu (KW 1) garam petani sedikit sekali, hal ini dikarenakan lapisan pertama garam tercampur tanah bahkan lumpur, sedangkan lapisan kedua masih berbau tanah, dan lapisan ketiga baru kualitas satu tapi jumalnya tidak banyak.
“Dengan membran (lapisan plastik) tersebut, semua produksi garam berkualitas satu, dan cara ini bisa meningkatkan produksi sebanyak 20%. Selain itu lebih cepat produksi karena temperaturnya lebih tinggi,” ungkapnya.
Dikatakannya, program tersebut akan dilaksanakan pada musim panas tahun depan karena saat ini sedang musim hujan. Terkait dana yang disiapkan, pihaknya masih menghitung dana yang harus disiapkan.
“Ya kira-kira sekitar Rp20 juta/ hektare, tapi tepatnya kita masih hitung. Dan juga ini dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan kita tapi juga sebanyak-banyaknya atau massal,” imbuhnya.
Intinya, tegas Dahlan, program tersebut bertujuan agar Indonesia tidak lagi mengimpor garam khususnya untuk konsumsi.
“Tapi kita akan tetap butuh impor garam khususnya untuk industri, karena industri sangat butuh banyak garam seperti industri kertas dan pertambangan minyak, sementara produksi dalam negeri sulit untuk memenuhi kebutuhan industri,” kata Mantan Dirut PLN ini.
“Ya kalau 10-20 lagi mungkin baru bisa penuhi kebutuhan industri,” tukas Dahlan.
(hen/hen)

Nelayan Desa Kedungmutih Demak , Perlu Perhatian Pemerintah

Musim hujan nelayan banyak istirahatnya karena laut ombak
Demak – Desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak selain dikenal sebagai desa penghasil garam juga dikenal sebagai desa penghasil ikan , udang, rajungan dan kepiting. Hasil perikanan tersebut selain dari tambak dipinggir pantai juga ditangkap oleh para nelayan yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Setiap harinya mereka mengandalkan laut sebagai lahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga , dari belanja harian, menyekolahkan anak sampai dengan memperbaiki rumah. Namun demikian penghasilan dari nelayan yang tidak menentu inilah yang menyebabkan penghidupan nelayan dari waktu ke waktu tidak ada peningkatan.
Selain rumah dan lingkungannya kelihatan kumuh , juga kehidupan anak-anaknya jauh dari kecukupan dan pendidikan merekapun masih rendah . Kebanyakan mereka paling tinggi hanya tamat SMP atau Madrasah Tsanawiyah untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi biasanya mereka terkendala biaya. Penghasilan orang tua mereka sebagai nelayan habis dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan harian dan juga untuk operasional “miyang” ke laut sehari-hari. Jika beberapa hari laut ombak merekapun banyak yang memperbahurui hutang atau menggadaikan barang atau perhiaasan.
“ Ya gimana lagi hanya inilah pekerjaan saya nelayan . Jika laut sedang ramah tidak ombak kita bisa miyang untuk menangkap ikan namun jika musim hujan tiba seperti ini kita tidak berani melaut karena laut ombak. Ya terpaksa dirumah memperbaiki mesin perahu dan juga alat tangkap ikan “ ujar Nur Sohib (45) Ketua Kelompok Nelayan “ Barokah Laut “ desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak pada wartawan yang menemuinya.
Didampingi sekretaris kelompok Sabarudin Nursohib yang lebih lima belas tahun menjadi nelayan mengemukakan, selain persoalan penghasilan yang tidak menentu harga ikan juga cenderung turun jika musim baik sehingga meski mendapat ikan yang banyak penghasilan tidak seberapa. Akibatnya penghasilan mereka habis dipergunakan untuk operasional sehari-hari dan kebutuhan belanja . Oleh karena itu untuk memperbaiki alat tangkap , perahu dan mesin sering terabaikan , sehingga meski dalam kondisi seadanya perahu atau mesin dipergunakan untuk menangkap ikan kelaut.
Sehingga jika musim ombak besar , sering terjadi kecelakaan nelayan yang diakibatkan oleh kurang layaknya perahu mereka selain kondisinya sudah tua , juga terlalu kecil jika menerjang ombak. Selain itu persoalan lain adalah masih kurangnya cunggihnya alat tangkap ikan mereka yang kurang inovasi seperti nelayan daerah lain. Idealnya satu nelayan memiliki alat tangkap 2 atau 3 jenis yang dipergunakan untuk menangkap ikan menurut musim ikan keluar. Namun karena keterbatasan dana mereka biasanya mereka hanya memiliki a tau 2 jenis alat tangkap ikan , akibatnya penghasilan mereka tidak bisa maksimal.
“ Sampai saat ini kelompok kami belum tersentuh program pemberdayaan dari pemerintah khususnya sector perikanan dan kelautan , oleh karena itu kita mohon kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib kita nelayan di desa Kedungmutih ini agar mendapatkan BLM ( Bantuan Langsung Masyarakat ) untuk meningkatkan kesejahteraan kami “, harap Nursohib.
Sabarudin (48) Sekretaris Kelompok Nelayan “Barokah Laut” mengatakan anggota kelompoknya yang berjumlah 31 orang belum lama ini telah mengurus PAS untuk perahu mereka ke kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Demak. Dengan harapan ke depan jika tidak ada BLM anggota kelompoknya bisa mengajukan kredit kepada lembaga keuangan atau perbankan dengan modal Surat PAS perahu tersebut. Dengan kredit itulah mereka bisa meningkatkan pendapatan mereka dengan menambah alat tangkap dan juga perbaikan perahu agar layak untuk menagkap ikan ke laut.
Sementara itu Hamdan (56) Kepala desa Kedungmutih yang ditemui secara terpisah mengatakan , para nelayan warganya memang masih membutuhkan perhatian dari pemerintah . Untuk petani garam misalnya sudah ada program PUGAR ( Pemberdayaan Usaha Garamn Rakyat) , namun untuk nelayan belum ada program yang menyentuh sampai ke bawah . Akibatnya sampai saat ini kehidupan nelayan masih banyak yang dikategorikan miskin , karena penghasilan mereka dalam satu tahunnya tidak cukup untuk kehidupan layak.
“ Kalaupun disini ada nelayan yang rumahnya bagus-bagus itu bukan hasil dari menangkap ikan ke laut ,
namun hasil istri atau anak mereka sebagai TKW di Luar Negeri. Oleh karena itu kami mengharapkan sekali adanya bantuan pemerintah pada nelayan warga desa kami “, kata Hamdan. (Fatkhul Muin)

Usaha Pengeringan Ikan Pak Gangsar , Sudah 20 Tahun lebih

 
Pak Gangsar dan Tumpukan Ikan Kering
KEDUNG MUTIH – Selain sebagai nelayan penangkap ikan Pak Gangsar ( 56 ) warga RT 07 RW 03 desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak juga membuka usaha pengeringan ikan. Bersama istrinya ibu Kastumi (50) dia telah 20  tahun berusaha mengeringkankan berbagai jenis ikan dari para nelayan tetangga yang seterusnya dipasarkan ke Pasar Rejomulyo Semarang. Jika mengandalkan hasil dari nelayan saja , penghasilannya tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Oleh karena itu meski harus meluangkan waktu khusus untuk membantu istrinya mengolah ikan profesi ini terus ditekuni sampai sekarang.
“ Ya gimana lagi hasil nelayan kan tidak menentu kadang dapat kadang tidak , lalu istri punya inisiatif untuk membuka usaha pengolahan ikan kering seperti ini . Meski hasilnya kecil namun setiap waktu selalu ada oleh karena itu sampai sekarang usaha pengeringan ikan ini tersu berjalan sampai sekarang “, ujar Pak Gangsar yang ditemui wartawan di braknya pinggir sungai SWD II.
Di dalam brak rumah tembok sederhana itu terlihat bungkusan-bungkusan plastic berbagai jenis ikan kering . Ada Ikan Teri , Munir , Layur , Juwi ,Kadalan , Buntek , Terak , Amping Dan tak ketinggalan udang rebon kering dan juga terasi. Ikan kering tersebut berasal dari pembelian ikan basah dari nelayan diseputaran Kedungmutih dan sekitarnya . Sampai dirumah ikan-ikan tersebut dibersihkan , diambil sisik dan isi perutnya kemudian dikeringkan dalam wadah-wadah yang terbuat dari bambu diseputaran pinggir pantai.
Setelah kering ikan tersebut dipilah-pilah menurut jenisnya dan dibungkus plastic rapi , setelah terkumpul banyak ikan-ikan itupun di setorkan ke pengepul di Semarang.  Namun demikian beberapa pengepul itu ada juga yang langsung datang ke rumahnya mengambil dagangan untuk dipasarkan lagi ke tempat lain.
“ Saya punya pelanggan khusus dari daerah Sayung Demak , dia mengambil ikan kering dari sini lalu dibungkus rapi dengan cap yang bagus lalu dijual eceran di PRPP semarang “, ujar Gangsar
Ikan Kering siap kirim
Ketika ditanya dari mana pengalaman berusaha dan mengolah ikan kering ini  ? Gangsar yang juga ketua RT dan juga tokoh nelayan desa Kedungmutih mengemukakan , awalnya adalah melihat tetangga desa yang juga mempunyai usaha pengeringan ikan dan cukup maju . Berawal dengan keberanian itulah ia bersama istrinya merintis usaha pengeringan ikan ini sampai sekarang . Dulu ketika awal berusaha usahanya cukup maju , sehingga tetangga kanan kirinya banyak yang juga ikut-ikutan , namun demikian usaha tersebut tidak berlangsung lama karena terkendala modal dan pemasaran.
Meski sudah lebih 20  tahun membuka usaha namun masih ada saja kendala yang menghadang usahanya  itu , utamanya jika musim penghujan tiba atau panas kurang terik . Sering ikan yang dikeringkan kualitasnya kurang bagus sehingga harganyapun turun dengan sendirinya. Selain itu tekhnik pengolahan ikannya juga masih tradisional sekali sehingga hasilnya kadang-kadang kurang bagus dilihat. Selain itu kendala modal juga menghambat pertumbuhan usahanya , sering terjadi jika dagangan banyak harga murah uangnya tidak cukup untuk membeli ikan dari nelayan.
Oleh karena itu dia mengharapkan bantuan dari pemerintah utamanya dinas perikanan untuk memberikan  penyuluhan pada usaha yang ditekuninya puluhan tahun, selain tekhnik pengolahan yang baik dan benar , pemasaran dan juga permodalan . Sehingga usaha yang telah dirintisnya itu bisa berjalan terus , dan hasil para nelayan di sekitar desa Kedungmutih bisa diolah menjadi ikan kering yang mempunyai nilai manfaat tersendiri. Utamanya ketika hasil nelayan banyak dan harga ikan basah cukup murah
“ Sebenarnya kami ingin mendapatkan penyuluhan dari pemerintah mengenai usaha pengolahan ikan kering sehingga pemasaran kami tidak hanya daerah Semarang saja , namun bisa menjangkau daerah lainnya . Selain itu juga masalah modal menjadi kendala tersendiri bagi kami pengusaha kecil “, harap gangsar menutup sua. (Fatkhul Muin)