translate

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

15 Des 2011

Musim Kemarau Rejeki Bagi Para Penjaja Air


1318901269703403789
Misbakhuk dengan motor bututnya
Demak – Bagi sebagian orang kekeringan atau musim kemarau adalah suatu musibah utamnya di desa-desa yang rawan air bersih .Sehingga jika musim kemarau tiba mereka kesulitan memenuhi air bersihnya karena sumur atau tendon air telah habis. Namun bagi para penjaja air kekeringan adalah rejeki mereka , dari menjajakan ir itulah mereka dapat penghasilan yang bisa menopang hidup mereka sehari-harinya. Dengan modal sepeda atau sepeda motor dan jrigen-jrigen untuk wadah air mereka memenuhi kebutuhan air warga sehari-harinya.
“ Ya jika sedang ramai saya bisa tiga puluh kali mensuplai air bersih ke rumah warga , namun jika di rata-rata ya dua puluh kali kita bisa membawa 4 jrigen air ini . Setiap jrigen kita dapat upah Rp 1.500,- dan kita beli pada warung air setiap jrigennya Rp 500 “, tutur Misbakhul Azmi (35) warga desa Kedungmutih yang setiap hari ider air keliling kampung Selasa (18/10/2011).
Misbakhul mengaku dengan modal motor bututnya itu dia sudah empat tahunan menekuni profesi sebagai tukang jaja air di musim kemarau , sedang air yang ia jajakan biasanya ngebon dulu pada warung air di daerah Jepara. Sehingga modal yang ia butuhkan sehari-harinya cukup bensin untuk menjalankan motornya dan juga olie dan servis jika motornya rusak. Setiap pagi hari dia keluar dari rumahnya dengan membawa 4 jrigen air berkapasitas 25 liter yang ia taruh dalam keranjang kayu yang ia buat dibelakang jok motornya.
Jrigen –jrigen kosong ia isikan ke warung air di desa Kedungmalang kecamatan Kedung kabupaten Jepara yang memang disediakan pemerintah untuk mensuplai kebutuhan air warga disaat kekeringan. Di sana ia harus antri dengan sesama penjaja air lainnya yang juga mengisi jrigen-jrigen mereka yang juga dijajakan ke desa yang dilanda kekeringan . Selain desa Kedungmutih , mereka juga menjajakan air ke desa Babalan, Kedungkarang dan Menco karena desa tersebut belum tersambung pipa PDAM . Di desa-desa itulah para penjaja air menangguk Rejeki di kala musim kemarau atau kekeringan tiba.
“ Kalau musim penghujan tiba saya kerja buruh-buruh atau mencari ikan ke laut sebagai Nelayan, upah dari menjajakan air ini cukup lumayan , sehari jika sampai siang bisa menghasilkan Rp 30 – 40 ribu bersih namun jika pagi hari saja Rp 25 ribu bersih juga dapat”, aku Misbakhul Azmi.
13189014351435299534
Selain Misbakhul masih ada beberapa orang lagi yang berprofesi sebagai penjaja air di kala musim kemarau tiba dan itu terjadi sudah puluhan tahun yang lalu . Usulan warga untuk tersambungnya pipa PDAM sejak lama dilontarkan belum ada sampai sekarang dengan alasan tidak adanya air baku yang mensuplai ke desa pesisir ini . Sumber air tawar yang ada hanya di kabupaten Jepara dan permintaan penyambungan air dari kabupaten Jepara belum bisa terpenuhi dikarenakan wilayah yang berbeda . Solusinya pemerintah daerah kabupaten Jepara membangun warung air di desa Kedungmalang yang kemudian airnya di jual kepada penjaja air yang selanjutnya dipasok ke rumah-rumah warga yang membutuhkan.
“ Kita berharap pemerintah daerah Kabupaten Demak bisa bergandeng tangan dengan pemerintah kabupaten Jepara agar menyambungkan pipa air bersih dari desa Kedungmalang ke desa Kedungmutih , toh tempatnya tidak . Sehingga desa Pesisir di kabupaten Demak ini bisa merasakan air bersih sehingga tidak membeli air bersih setiap hari kepada para penjaja air yang harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan menyambung pipa PDAM secara langsung :, ujar Fatkhul Muin tokoh masyarakat desa Kedungmutih yang juga pengelola blog “Pusat Informasi Masyarakat Pesisir”. (FM)

0 komentar:

Posting Komentar